Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menjalar jalar selalu kian kemari
Umpan yang besar itulah yang di cari
Ini dia lah yang terbelakang.....
Permainan tradisional sangatlah populer sebelum teknologi masuk ke Indonesia. Dahulu, anak-anak bermain dengan menggunakan alat yang seadanya. Namun kini, mereka sudah bermain dengan permainan-permainan berbasis teknologi yang berasal dari luar negeri dan mulai meninggalkan mainan tradisional. Seiring dengan perubahan zaman, pPermainan tradisional perlahan-lahan mulai terlupakan oleh anak-anak Indonesia. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sama sekali belum mengenal permainan tradisional.
Sabtu, 30 April 2011
Benthik
Benthik cukup mudah dilakukan. Siapkan minimal 3 bambu yang sudah diraut. 2 berukuran sekitar 50 cm, sedang satunya sebagai umpan berukuran 20-an cm. Permainan ini bisa dilakukan minimal berdua, tapi bisa juga dilakukan lebih dari dua.
Kemudian gali tanah sedalam 5 cm. dibuat agak lebar untuk melatakkan umpan. Letakkan umpan di tengah tanah yang sudah kita gali itu. Kemudian lentikkan dengan bambu yang lebih panjang. Lawan kita kita harus menepisnya dengan bambu yang dia pegang juga.
Ada istilah 'patil lele' dalam permainan ini. Yaitu, umpan diganjal dengan batu keci, Kemudian disentil dengan bambu sekeras-kerasnya. Kalau bisa melenting jauh dan tidak tertangkap lawan kita, bisa jadi kitalah pemenang permainan ini.
Kamis, 28 April 2011
Oray-Orayan
Permainan Oray-orayan (dalam bahasa Indonesia: Ular-ularan) cukup terkenal di tataran Sunda. Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan terbuka dengan jumlah pemain bebas, semakin banyak semakin seru tentunya. Cara bermain oray-orayan cukup sederhana namun tetap dibutuhkan kelincahan dan kekompakan para pemainnya. Pemain terdepan, yang menjadi kepala oray, berusaha menangkap pemain yang paling belakang, yang menjadi ekor oray, sehingga barisan bergerak meliuk-liuk seperti oray sungguhan. Barisan ini tidak boleh terputus. Sambil bermain, pemain melantunkan kawih
Oray-orayan luar leor ka sawah …,
Tong ka sawah parena keur sedeng beukah
Oray-orayan luar leor ka kebon …,
Tong ka kebon aya barudak keur ngangon
Dalam bahasa Indonesia, kawih di atas kurang lebih berbunyi seperti ini:
Ular-ularan bergerak-gerak menuju sawah…,
Jangan ke sawah padinya sedang mekar
Ular-ularan bergerak-gerak menuju kebun…,
Jangan ke kebun ada anak-anak sedang menggembala
Selasa, 26 April 2011
Yuk kenalan sama pencinta mainan tradisional: Mohamad Zaini Alif & Komunitas Hong
Mendengar namanya, mungkin ada yang belum tahu dengan komunitas yang satu ini. Komunitas Hong adalah komunitas yang mempunyai tekad untuk melestarikan mainan dan permainan rakyat. Menurut sang pendiri, mengapa mengambil kata "hong" karena "hong" merupakan sebuah kata awalan saat kita sedang bermain. Ingatkah Anda, semasa kecil dulu kita sering melakukan 'hompimpa' untuk mengundi siapa yang jalan duluan. "Hong" disini merupakan awalan dari 'hompimpa' lalu menjadi "hong."
Komunitas yang didirikan sejak tahun 2003 ini, ternyata telah melakukan penelitian tentang mainan sejak tahun 1996. Adalah Mohamad Zaini Alif seorang lulusan Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan ITB yang meraih gelar S1 dan S2-nya dalam jenjang pendidikan Desain Produk, yang mendirikan Komunitas Hong.
Rasa cintanya terhadap mainan tradisional sejak masih duduk di bangku sekolah inilah yang membawanya mendirikan komunitas dengan 150 orang anggota di dalamnya. Anggota tersebut berasal dari masyarakat berbagai usia. Dari umur 6 tahun hingga yang berusia 90 tahun sekalipun. Yang masih tergolong anak-anak biasa hanya memainkan permainan saja, sedangkan untuk yang dewasa adalah sebagai narasumber dan pembuat mainan.
Di dalam Komunitas Hong ini, mereka mengeksplor dan merekonstruksi mainan rakyat, baik mainan dari tradisi lisan ataupun tulisan berupa naskah-naskah jaman dahulu, dan berusaha memperkenalkan mainan rakyat.Menurut penuturan Mohammad Zaini Alif – ternyata terdapat sekitar 168 permainan tradisional yang telah direkonstruksi ulang loh! Wow, banyak juga ya ternyata, dan sepertinya hanya sebagian kecil saja yang kita kenali. Ada berapa mainan tradisional yang sudah direkonstruksi seperti kolecer (baling-baling yang biasa ditiup angin di sawah, terbuat dari bambu atau daun kelapa), rorodaan (sepeda-sepedaan terbuat dari bambu dan kayu), wayang dari batang singkong, gasing jajangkung (egrang ala Sunda), dan lain-lain.
Komunitas Hong juga menerapkan kegiatan-kegiatan, diantaranya:
- Pemuatan Kampung Kolecer, yatu tempat melatih mainan dan permainan rayat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang.
- Pendirian Museum Mainan Rakyat di Bandung untuk lebih mengedepankan dan memperkenalkan mainan rakyat.
- Menyelenggarakan Festival Kolecer, yaitu festival mainan rakyat dengan berbagai upacara adat.
Nah, apa kamu makin penasaran? Buat kamu yang ingin juga melihat secara langsung bagaimana rupa dari Komunitas Hong ini, bisa mencarinya di areal Car Free Day Dago setiap hari Minggu pagi. atau kamu bisa juga kunjungi pusatnya di Bukit Pakar Utara Bandung.
Komunitas Hong
Pusat Kajian Mainan Rakyat
Pusat : Jl. Bukit Pakar Utara 35 Dago Bandung Tel. 022-2515775
Showroom : Jl. Merak 2 Bandung Tel.
Workshop: Kampung Kolecer, Kmp. Bolang desa Cibuluh Kec. Tanjungsiang Kab. Subang
Tel : 0260-480026
Senin, 25 April 2011
Profil Unik : Daniel Supriyono "Maestro Mainan Tradisional"
Realitas memperlihatkan kebanyakan anak pada abad ke-21 ini dikelilingi mainan digital, seperti game pada komputer, Nintendo, dan Playstation. Juga mainan yang terbuat dari plastik, seperti robot-robotan dan boneka Barbie. Golek atau boneka terbuat dari kayu yang dulunya merupakan kawan baik anak perempuan, sudah tersisihkan oleh boneka Barbie tersebut. Dengan rambut pirang panjang dan bajunya yang bisa diganti dengan pakaian lain sesuai mode yang diinginkan, boneka Barbie merupakan dambaan anak kecil sedunia.
Kendati demikian, celah atau prospek untuk mainan tradisional itu ada meskipun orang zaman sekarang lebih menyukai mainan modern yang serba elektronik, kata Daniel Supriyono seorang kolektor mainan tradisional. Pria kelahiran Kudus Jawa Tengah, itu menganjurkan agar anak diberi keseimbangan. "Mereka juga harus dikenalkan pada mainan tradisional. Dalam hal ini, orangtua berperan mengenalkan anak pada mainan tradisional dan jangan hanya mengenalkan mainan modern saja. Sebaliknya, anak juga jangan hanya dikenalkan pada mainan tradisional saja,".
Dari segi mengedukasi anak-anak, bahan yang natural bisa menjadi mainan. Contohnya, bahan seng bisa jadi mainan kaleng, bahan dari timah untuk roda timah. Kalau minat ini sudah dipupuk sejak kecil, siapa tahu akan menjadi kolektor juga. .
Sebagai penggemar mainan tradisional, Daniel memiliki koleksi mainan daerah dari berbagai pelosok di Indonesia. Ia mengumpulkan mainan dimaksud setiap kali ditugaskan keluar kota. "Di mana saya berada, saya biasanya mencari mainan tradisional," paparnya. Ia kerap ke pasar malam dan tradisional seperti pasar Kiaracondong di Bandung. Bila sempat, ia meluangkan waktu menelusuri toko-toko lama, kampung dan kota, seperti Medan, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Cirebon.
Mainan favorit Daniel sendiri berupa roda timah atau disebut roda kaleng dari Pekanbaru. Peraturan permainan mudah saja, jelas Daniel, roda timah dipelintir satu atau dua kali dengan seutas tali sepatu. Sang pelintir roda yang bergerak paling lama, lantas keluar sebagai pemenang.
Menurut Daniel, peminat mainan tradisional beraneka ragam, dari anak kecil sampai lanjut usia (lansia). "Anak kecil suka karena mereka penasaran dan tertarik pada proses serta fungsi mainan itu. Misalnya, mainan ditiup seperti burung-burungan karena menghasilkan bunyi ataupun mainan kayu yang bergerak seperti kuda-kudaan," ungkapnya.
Koleksi Daniel antara lain terdiri dari gasing dan layang-layang kain. Mainan asal Bali berbentuk burung, layang-layang tersebut dilengkapi cakar yang dibungkus karet dan benang merah supaya mirip dengan aslinya. Layang-layang yang tersedia dalam bentuk kupu-kupu pula terbuat dari kain parasut berwarna hijau, biru, dan kuning cerah.
Di antara koleksi mainan Daniel, ditemukan pula kuda-kudaan terbuat dari kayu randu dengan koboi duduk di atas pelana kuda. Pengaruh budaya barat dalam mainan tradisional terlihat dalam koboi berpistol dengan topi dan selendang yang dicat merah tua. Kendati cara mainnya hanya digerakkan maju mundur saja.
Koleksi Daniel yang paling populer dan diminati banyak orang adalah mainan yang mampu mengeluarkan suara, contohnya, etek-etek dan othok-othok. Etek-etek berupa boneka kayu yang bila digoyangkan, lehernya yang menonjol terpukul oleh kedua tangan boneka dan menimbulkan suara. Sedangkan, othok-othok berbentuk drum kecil yang diikatkan serangkaian kayu.
Ada juga mainan tradisional daerah Yogyakarta terbuat dari tanah liat. Kodok-kodokan, misalnya, yang mengeluarkan suara ketika kepala dan kakinya dipencet bersamaan serta burung-burungan yang berbunyi seperti burung perkutut jika ditiup.
Juga tamborin. Tamborin dari Bali ini berupa tamborin keluek, kerang, dan biji karet. Semuanya terbuat dari bambu. Besi yang dibakar dan ditempelkan pada bambu memberi motif indah berwarna hitam. Baik biji karet, kerang, maupun keluek diikat dengan tali dipucuk bambu. Bila digoyangkan, menimbulkan nada yang berbeda satu sama lain. Itulah keunikan mainan Tanah Air. Hanya menggunakan bahan alami di sekitar kita.
Selain tamborin, terdapat juga mainan anak asal daerah Pantura. Gamelan terbuat dari kayu randu seperti kuda-kudaan. Logam dipaku di atas kayu randu itu sehingga ketika dipukul dengan setangkai kayu, menimbulkan suara bagaikan alunan musik di telinga. Nada gamelan diatur oleh panjang pendeknya logam. Meskipun kayu randu dicat murahan, namun corak warna cat mencolok itulah yang merupakan ciri khas gamelan.
Kendati berwarna-warni dan mudah menimbulkan efek gerak, mainan daerah tidak luput dari kekurangan. "Mainan gampang rusak akibat suhu udara dan tidak semuanya aman untuk anak-kanak berhubung terbuat dari bahan natural yang rentan kena rayap dan air," ungkap Daniel. Contohnya saja, kuda-kudaan yang terbuat dari kayu randu. Mainan itu mudah patah bila jatuh. Pada umumnya, koleksi Daniel bertahan sekitar tiga bulan. "Bisa jadi bubuk karena rayap," kata pria itu sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Tamborin keluek, imbuhnya, juga dimakan rayap sehingga menjadi serbuk bambu.
Kendati Daniel belum memiliki toko sendiri karena kekurangan modal, ia tetap gigih dalam upayanya memelihara kelestarian aneka mainan Nusantara. [RPS/N-5]
Sabtu, 23 April 2011
SEJARAH KETAPEL
Dalam penggalian di situs hirbet el-Maqatir, sekitar 16 km sebelah utara Yerusalem, batu-batu umban diketemukan hampir di semua tempat. Dr. Bryan Wood, kepala tim penggalian, melaporkan, “Pada penggalian ketiga, kami menemukan hampir tiga lusin batu umban. Betuknya kasar, berdiameter2 inci lebih besar daripada bola tenis, dan beratnya sekitar sembilan ons.” Batu-batu itu dibentuk dengan alat. Bentuk dan ukurannya menunjukkan periode tertentu dalam sejarah Palestina. Batu umban berukuran besar digunakan hingga masa Yunani (akhir 4 BC). Pasukan Romawi dan Yunani menggunakan batu umban seukuran bola golf.
Ketapel zaman dahulu dibuat dari kulit atau juga dari anyaman wol, dengan sebuah kantung di tengahnya untuk meletakkan batu. Semakin panjang tali katapelnya semakin jauh pula lemparannya. Ketapel jarak jauh panjangnya sekitar 3 kaki.
Pasukan ringan (peltast) terdiri dari para pemanah, ketapel tangan, dan pelempar tombak. Mereka bertugas membuka serangan dengan menghujani musuh. Ketapel untuk jarak jauh, panah untuk jarak menengah, sedangkan tombak untuk jarak yang sudah agak dekat. Mereka juga bertugas melindungi pasukan berpedang (hoplite) saat melarikan diri.
Menurut sebuah dokumen perang, pasukan panah dilatih untuk membidik target sejauh 175 meter sedangkan pasukan ketapel 375 meter. Pasukan ketapel bahkan mampu membidik muka musuh secara akurat dengan kecepatan lemparan mencapai 90 km/jam. Seorang penulis Romawi mengatakan bahwa prajurit yang mengenakan baju pelindung berlapis kulit lebih takut pada serangan umban daripada anak panah. Sebuah dokumen kesehatan Roma yang ditulis oleh Celcus menunjukkan cara-cara pengambilan batu ketapel dari dalam tubuh seseorang. Ini berarti bahwa batu ketapel mampu menembus tubuh seseorang, walau dengan pelindung tubuh dari kulit.
Di Indonesia, ketapel sering disebut dengan plinthengan atau blandring. Ketapel digunakan untuk berburu hewan kecil seperti burung kecil atau capung, atau sekedar untuk bermain perang-perangan dengan teman sebaya.
Ketapel di Indonesia dibuat dari bahan kayu dan karet. Karet yang digunakan biasanya berasal dari ban bekas. Peluru yang digunakan biasanya batu kecil, atau karet gelang yang dibentuk bulat-bulat sehingga tidak melukai orang lain.









